Langsung ke konten utama

Sukuk Makin Diminati Dunia




REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Sukuk semakin diminati pasar dunia. Sukuk semakin berkembang tidak hanya di negara mayoritas Muslim. 

Hal itu disampaikan H.E. Datuk Dr. Awang Adek Bin Hussin, Duta besar Malaysia yang berbicara tentang pertumbuhan pasar modal Syariah dalam konferensi yang diadakan di the National Press Club of Washington, pekan lalu. Konferensi yang diadakan selama dua hari bertajuk 'ASEAN Islamic Finance Conference' ini merupakan pertemuan antara Kedutaan besar Malaysia bersama lebih dari 50 pemimpin bisnis pasar modal Islam terkemuka dan pemimpin bisnis Amerika Serikat.

Hussin mengungkapkan Perdana Menteri Inggris David Cameron mengumumkan rencananya untuk membuat Inggris sebagai pusat keuangan penting obligasi syariah (sukuk) di negara-negara Barat. Hal itu dinilai akan menjadikan obligasi syariah semakin berkembang. 

Ia menerangkan apayang membedakan sukuk dari obligasi konvensional adalah risikonya yang rendah. Persentase pendapatan dinilai lebih nyata, karena bukan dibayar dengan bunga. 

Pembicara Seminar, Owaiz M. Dadabhoy, Manajer Islam Investment Group mengungkapkan sukuk memiliki transparansi yang tinggi dan lebih mudah untuk mengevaluasi investasi. 

Sementara itu, Roy Michael, Direktur Eksekutif dari Malaysian US Chamber of Commerce, menjelaskan keberhasilan pasar keuangan syariah karena suku bunga nonspekulatif dan rendah dibandingkan dengan sifat spekulatif dari suku bunga investasi konvensional saat ini. 

"Investor ingin investasi yang akan memberikan kinerja kembali yang aman dan lebih besar. Sementara investasi konvensional baru bisa dipulihkan dari peristiwa pasar negatif selama tujuh tahun, obligasi syariah telah menunjukkan keuntungannya sehingga membuat permintaan kuat," kata Michael dilansir Market Watch pada Sabtu (7/11).

Michael percaya bahwa pilihan dana investasi syariah semakin membuat sukuk sangat menarik bagi banyak investor. Ia menilai sukuk bisa menjadi pilihan untuk pensiunan, bankir swasta, maupun peru
sahaan investor di AS. 

Sumber: Aini, Nur. 2015. "Sukuk Makin Diminati Dunia". http://www.republika.co.id/berita/ekonomi/syariah-ekonomi/15/11/07/nxgane382-sukuk-makin-diminati-dunia (Diakses tanggal 09 Nov 2015)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PENDEKATAN DALAM MENGEMBANGKAN AKUNTANSI SYARIAH

PENDEKATAN DALAM MENGEMBANGKAN AKUNTANSI SYARIAH Pendekatan Induktif Berbasis Akuntansi Kontemporer Pendekatan   ini   biasa   disingkat   dengan   pendekatan      induktif,      yang dipelopori   oleh   AAOIFI   (Accounting   and   Auditing   Organization   for   Islamic Financial Institution). Pendekatan ini menggunakan tujuan akuntansi keuangan Barat yang sesuai dengan organisasi bisnis Islam dan mengeluarkan bagian yang bertentangan dengan ketentuan syariah. Argumen yang mendukung pendekatan ini menyatakan bahwa pendekatan ini dapat diterapkan dan relevan dengan intitusi yang   memerlukannya.   Selain   itu,   pendekatan   ini   sesuai   dengan   prinsip   ibaha (boleh)   yang   menyatakan   bahwa   segala   sesuatu   yang   terkait   dalam   bidang muamalah boleh dilakukan sepanjang tidak ada larangan yang menyatakannya. Adapun argumen yang menentang pendekatan ini menyatakan bahwa ini tidak bisa diterapkan pada masyarakat   yang kehidupannya wajib berlandaskan pada wahyu

HUBUNGAN PERADABAN ISLAM DENGAN BUKU PACIOLI

HUBUNGAN PERADABAN ISLAM DENGAN BUKU PACIOLI Sejak abad VIII, Bangsa Arab berlayar sepanjang pantai Arabi dan India, singgah di Italia dan menjual barang dagangan yang mewah yang tidak diproduksi oleh Eropa. Buku Pacioli di dasarkan pada tulisan Leonard of Piza, orang Eropa pertama yang menerjemahkan buku Algebra (pada saat itu ditulis dalam bahasa Arab), yang berisikan dasar-dasar mengenai bookkeeping. Bookkeeping sebenarnya telah dipraktekkan pertama kali oleh para pedagang dan berasal dari Mesir.   Pada   akhir   abad   XV,   Eropa   mengalami   standstill   dan   tidak   dapat ditemukan adanya kemajuan yang berarti dalam metode akuntansi.              Istilah    Zornal    (sekarang   journal)    telah    lebih    dahulu    digunakan    oleh kekhalifahan Islam dengan Istilah Jaridah untuk buku catatan keuangan. Double entry   yang   ditulis   oleh   Pacioli,   telah   lama   dipraktekkan   dalam   pemerintahan Islam. Dari runtutan penjelasan di atas, jelaslah bahwa akuntansi d

Riba dalam Perspektif non-Muslim

                 Meskipun istilah riba disebut di dalam Al-Qur’an, namun istilah tersebut tidak terdapat penjelasan secara detail dalam praktik Rasulullah SAW. Hal ini didasarkan atas dua alasan. Pertama, bahwa ayat yang berkaitan dengan riba diturunkan pada akhir kehidupan Rasulullah SAW sehingga tidak banyak contoh kasus orang-orang yang bertanya kepada Rasulullah SAW tentang istilah tersebut. Kedua, riba merupakan istilah yang telah mapan dan terkenal pada saat pewahyuannya dan karena itu Rasulullah tidak merasa adanya kebutuhan akan penjelasan atau elaborasi lebih lanjut. Secara literal, riba merupakan istilah dalam bahasa Arab yang berarti kelebihan, tambahan. Kata kerja yang berkaitan dengan kata ini berarti; meningkatkan, melipatgandakan, melebihkan, mengambil lebih dari yang seharusnya, atau melakukan praktik peminjaman uang dengan tingkat bunga tinggi. Menurut Lane, istilah riba bermakna:             “meningkatkan, memperbesar, menambah, tambahan terlarang, menghasil