Langsung ke konten utama

KAMNAS (Kampanye Nasional)



KAMPANYE NASIONAL (KAMNAS) 2013
“Indonesia Mandiri dengan Ekonomi Syariah”



Di Indonesia, masalah kependudukan yang krusial dan belum sepenuhnya terpecahkan adalah masalah pengangguran dan kemiskinan. Berdasarkan berita resmi Badan Pusat Statistik (BPS) tanggal 7 Mei 2012, jumlah pengangguran pada Februari 2012 mencapai 7,6 juta orang (6,32%), dengan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) cenderung menurun, dimana TPT Februari turun dari TPT Agustus 2011 sebesar 6,56 persen. Sedangkan, jumlah penduduk Indonesia yang berada di bawah garis kemiskinan per September 2012 berdasarkan berita resmi statistik, mencapai 28,59 juta jiwa (11,56%). Meskipun mengalami penurunan, angka-angka diatas masih menunjukkan jumlah pengangguran dan penduduk miskin yang besar.
Dilatarbelakangi oleh masalah tersebut,  Forum Silaturahim Studi Ekonomi Islam (FoSSEI), sebuah organisasi kemahasiswaan yang concern terhadap pembumian ekonomi Islam, mengadakan aksi turun ke jalan secara serentak di hampir seluruh provinsi di Indonesia. Aksi yang diberi nama Kampanye Nasional tersebut dilakukan pada hari Minggu, 19 Mei 2013. Mengusung tema ‘Indonesia Mandiri dengan Ekonomi Syariah’, para anggota FoSSEI menyerukan kepada pemerintah dan semua elemen masyarakat agar menguatkan Zakat, Infak, dan Sedekah sebagai instrumen pemerataan pendapatan, memperjuangkan keadilan dalam hak sumber daya alam dan merevitalisasi pasar tradisional yang bebas rentenir,  jujur. Selain itu, para anggota FoSSEI juga menyerukan untuk memperkuat efisiensi rantai niaga dan keberpihakan, perlindungan buruh dan penghapusan pungli bagi pengusaha serta reformasi agraria bagi petani dan perlindungan dari komoditas impor. Aksi ini bertujuan untuk menyadarkan masyarakat akan pentingnya ekonomi Islam sebagai suatu sistem yang adil dan dapat membantu menyejahterakan masyarakat.
Di Semarang, acara Kampanye Nasional dilakukan di sekitar daerah Car Free Day Simpang Lima dan dihadiri sekitar 150 anggota FoSSEI Regional Jawa Tengah. Selain menyanyikan mars FoSSEI di sepanjang Simpang Lima, para peserta Kampanye Nasional ini juga membagikan coklat dan selebaran edukasi Ekonomi Islam kepada masyarakat di kawasan Car Free Day. Agar lebih menarik pengguna jalan, para peserta juga melakukan Freeze mob dan dramatisasi permasalahan rakyat kecil yang terlilit sistem ekonomi kapitalisme.
Pesannya adalah ekonomi kapitalisme yang ada sekarang secara jelas dan tidak dipungkiri sama sekali telah menjerat orang-orang miskin lebih dalam ke lubang kesengsaraan. Kegiatan kampanye berjalan lancar tanpa hambatan dan antusiasme masyarakat terlihat sangat baik menaggapi aksi kampanye ini.
Semoga pesan dari aksi ini bisa tersampaikan dengan baik dan Ekonomi Islam bisa diterapkan secara total sebagai solusi permasalahan ekonomi bangsa. Ekonom Rabbani!! Bisa!!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PENDEKATAN DALAM MENGEMBANGKAN AKUNTANSI SYARIAH

PENDEKATAN DALAM MENGEMBANGKAN AKUNTANSI SYARIAH Pendekatan Induktif Berbasis Akuntansi Kontemporer Pendekatan   ini   biasa   disingkat   dengan   pendekatan      induktif,      yang dipelopori   oleh   AAOIFI   (Accounting   and   Auditing   Organization   for   Islamic Financial Institution). Pendekatan ini menggunakan tujuan akuntansi keuangan Barat yang sesuai dengan organisasi bisnis Islam dan mengeluarkan bagian yang bertentangan dengan ketentuan syariah. Argumen yang mendukung pendekatan ini menyatakan bahwa pendekatan ini dapat diterapkan dan relevan dengan intitusi yang   memerlukannya.   Selain   itu,   pendekatan   ini   sesuai   dengan   prinsip   ibaha (boleh)   yang   menyatakan   bahwa   segala   sesuatu   yang   terkait   dalam   bidang muamalah boleh dilakukan sepanjang tidak ada larangan yang menyatakannya. Adapun argumen yang menentang pendekatan ini menyatakan bahwa ini tidak bisa diterapkan pada masyarakat   yang kehidupannya wajib berlandaskan pada wahyu

HUBUNGAN PERADABAN ISLAM DENGAN BUKU PACIOLI

HUBUNGAN PERADABAN ISLAM DENGAN BUKU PACIOLI Sejak abad VIII, Bangsa Arab berlayar sepanjang pantai Arabi dan India, singgah di Italia dan menjual barang dagangan yang mewah yang tidak diproduksi oleh Eropa. Buku Pacioli di dasarkan pada tulisan Leonard of Piza, orang Eropa pertama yang menerjemahkan buku Algebra (pada saat itu ditulis dalam bahasa Arab), yang berisikan dasar-dasar mengenai bookkeeping. Bookkeeping sebenarnya telah dipraktekkan pertama kali oleh para pedagang dan berasal dari Mesir.   Pada   akhir   abad   XV,   Eropa   mengalami   standstill   dan   tidak   dapat ditemukan adanya kemajuan yang berarti dalam metode akuntansi.              Istilah    Zornal    (sekarang   journal)    telah    lebih    dahulu    digunakan    oleh kekhalifahan Islam dengan Istilah Jaridah untuk buku catatan keuangan. Double entry   yang   ditulis   oleh   Pacioli,   telah   lama   dipraktekkan   dalam   pemerintahan Islam. Dari runtutan penjelasan di atas, jelaslah bahwa akuntansi d

Riba dalam Perspektif non-Muslim

                 Meskipun istilah riba disebut di dalam Al-Qur’an, namun istilah tersebut tidak terdapat penjelasan secara detail dalam praktik Rasulullah SAW. Hal ini didasarkan atas dua alasan. Pertama, bahwa ayat yang berkaitan dengan riba diturunkan pada akhir kehidupan Rasulullah SAW sehingga tidak banyak contoh kasus orang-orang yang bertanya kepada Rasulullah SAW tentang istilah tersebut. Kedua, riba merupakan istilah yang telah mapan dan terkenal pada saat pewahyuannya dan karena itu Rasulullah tidak merasa adanya kebutuhan akan penjelasan atau elaborasi lebih lanjut. Secara literal, riba merupakan istilah dalam bahasa Arab yang berarti kelebihan, tambahan. Kata kerja yang berkaitan dengan kata ini berarti; meningkatkan, melipatgandakan, melebihkan, mengambil lebih dari yang seharusnya, atau melakukan praktik peminjaman uang dengan tingkat bunga tinggi. Menurut Lane, istilah riba bermakna:             “meningkatkan, memperbesar, menambah, tambahan terlarang, menghasil